Cacar monyet, atau yang sekarang lebih dikenal sebagai Mpox, merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus yang mirip dengan virus penyebab cacar. Disebut Cacar Monyet karena virus ini pertama kali ditemukan pada monyet di tahun 1958, dan manusia pertama kali terinfeksi pada tahun 1970 di Afrika. Pada 14 Agustus 2024, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan Mpox sebagai Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional karena penyebarannya yang cepat di berbagai negara.
Di Indonesia sendiri, kasus Mpox pertama kali muncul pada 20 Agustus 2022. Hingga Agustus 2024, tercatat sebanyak 88 kasus yang sudah dikonfirmasi. Kasus-kasus ini ditemukan di berbagai daerah seperti Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Kepulauan Riau, dan Yogyakarta.
Persebaran virus Cacar Monyet di seluruh dunia antara Januari 2022 hingga Juni 2024, tercatat hampir 100 ribu kasus Mpox di lebih dari 100 negara, dengan 208 orang dilaporkan meninggal karena penyakit ini.
Merespon hal ini, Plh. Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dr. Yudhi Pramono, MARS menyatakan bahwa pemerintah perlu meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman penularan Mpox. Salah satu upayanya dengan meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas di pintu masuk negara, terutama negara terjangkit, serta meningkatkan surveilans penyakit Mpox.
Gejala dan Cara Penularan
Dalam rangka meningkatkan kesiagaan kita terhadap persebaran virus Mpox, kami rangkum ciri-ciri dari penyakit Cacar Monyet. Gejala utama Mpox biasanya berupa:
- Ruam dan luka di kulit, terutama di wajah, tangan, kaki, serta area lain seperti mulut dan alat kelamin.
- Demam yang sering disertai dengan rasa sakit di kepala dan otot.
- Pembengkakan kelenjar getah bening, terutama di leher, ketiak, atau selangkangan.
- Nyeri di punggung, kehilangan energi, dan lemas.
Mpox menyebar terutama melalui kontak langsung dengan cairan tubuh, luka di kulit, atau percikan air liur dari orang yang terinfeksi. Penularan juga bisa terjadi jika seseorang menyentuh benda-benda yang telah terkontaminasi virus, seperti pakaian atau handuk yang digunakan oleh orang yang terinfeksi. Oleh karena itu, menghindari kontak fisik dengan orang yang memiliki gejala Mpox sangat penting untuk mencegah penularan.
Cara Memulihkan Diri
Jika Anda terinfeksi Mpox, Anda bisa merawat diri di rumah dengan cara-cara berikut:
1. Merawat Luka dan Gejala
- Hindari menggaruk ruam atau luka agar tidak menimbulkan infeksi tambahan.
- Selalu cuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh ruam atau luka.
- Pastikan ruam tetap kering dan tidak tertutup rapat.
- Jika luka berada di mulut atau tenggorokan, berkumurlah dengan air garam untuk mengurangi rasa sakit.
- Mandi air hangat bisa membantu meredakan rasa gatal dan tidak nyaman.
- Jika perlu, gunakan obat penghilang rasa sakit seperti paracetamol.
2. Menjaga Kesehatan Mental
- Lakukan hal-hal yang membuat Anda merasa tenang dan bahagia.
- Tetap berhubungan dengan keluarga dan teman melalui telepon atau media sosial.
- Jika Anda merasa cukup kuat, lakukan olahraga ringan untuk membantu menjaga kesehatan mental Anda.
3. Mencegah Penularan kepada Orang Lain:
- Hindari kontak dengan orang lain sampai luka benar-benar kering dan sembuh.
- Jika Anda tinggal bersama orang lain, usahakan untuk berada di ruangan terpisah dan gunakan kamar mandi yang berbeda jika memungkinkan.
- Bersihkan tangan setelah menyentuh benda atau permukaan bersama, dan sering-seringlah membersihkan permukaan yang sering disentuh.
- Gunakan alat makan dan barang pribadi secara terpisah.
- Jika tidak bisa menghindari berada di ruangan yang sama dengan orang lain, tutupi luka dengan pakaian, gunakan masker, dan pastikan ruangan memiliki ventilasi yang baik.
Peran Fasilitas Kesehatan dalam Pencegahan
Fasilitas kesehatan memiliki peran penting dalam pencegahan dan pengendalian penyebaran Mpox melalui surveilans penyakit. Surveilans ini merupakan proses pemantauan kasus secara sistematis dan real-time, yang memungkinkan pihak berwenang untuk segera merespons wabah dan mencegah penyebaran lebih lanjut. Dengan surveilans yang efektif, fasilitas kesehatan dapat mendeteksi dan melaporkan kasus Mpox dengan cepat, memastikan pengambilan tindakan pencegahan bisa dilakukan sesegera mungkin. Dibutuhkan sebuah teknologi yang dapat membantu proses surveilans mendapatkan data secara sistematis dan real-time.
SIMRS Digicare dilengkapi dengan Modul EIS (Executive Information System) yang dirancang untuk mengumpulkan, mengelola, dan menampilkan data detail secara real-time. Modul EIS Digicare sudah dilengkapi dengan dashboard tren data kesehatan untuk membantu proses surveilans penyakit sebagai data epidemiologi dengan lebih cepat dan efisien.
Dalam rangka membangun pelayanan kesehatan yang responsif terhadap tantangan epidemiologi, Digicare berkomitmen untuk membantu rumah sakit melakukan kegiatan preventif lebih cepat bersama Modul EIS Digicare. Untuk mengetahui kemampuan Modul EIS Digicare, hubungi Tim Digicare dan daftarkan demo gratis!
Source :
https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20240818/1346255/siaga-hadapi-mpox%E2%81%B7/
https://www.who.int/indonesia/emergencies/mpox-outbreak